Samarinda, 29 September 2026 — Gerakan Petani Muda Kalimantan Timur mulai memasuki tahap implementasi melalui rapat bersama pertama yang mempertemukan unsur pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, organisasi kepemudaan, petani milenial, dan dunia usaha.
Rapat tersebut dihadiri oleh Ketua Barisan 8 Center Kaltim, Eka Marindra Lutviandi, bersama jajaran; perwakilan Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur, yaitu Ibu Dewi Erika Pandjaitan, SP., MM., MP., selaku Kepala UPTD BPPSDMP; Dekan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, Dr. Ir. H. Fahrunsyah, M.P., beserta jajaran; Kepala BPVP Samarinda, Eka Cahyana Adi, beserta jajaran; pengurus GP Ansor Kukar; perwakilan petani milenial Provinsi Kaltim; serta perwakilan dunia usaha.
Rapat perdana ini menjadi forum untuk menyamakan pemahaman mengenai arah gerakan, sekaligus membangun pola kerja kolaboratif yang melibatkan masing-masing pihak sesuai kapasitas dan perannya.
Salah satu hasil penting rapat adalah ditetapkannya PIC dari masing-masing unsur yang terlibat. Penetapan PIC diharapkan membuat proses koordinasi menjadi lebih jelas, terukur, dan langsung dapat ditindaklanjuti di lapangan.
Selanjutnya, para pihak menyepakati bahwa langkah awal menuju pelaksanaan piloting adalah melakukan IPW (Identifikasi Potensi Wilayah) pada wilayah yang telah ditetapkan sebagai lokasi piloting.
IPW akan menjadi dasar untuk melihat kondisi riil wilayah, antara lain potensi lahan, komoditas, sumber daya manusia, calon petani muda, sarana dan prasarana, peluang usaha, serta potensi dukungan ekosistem di sekitar wilayah tersebut.
Dengan demikian, program tidak dimulai dari asumsi atau konsep yang bersifat umum, tetapi dari data dan kondisi nyata di lapangan.
Ketua Barisan 8 Center Kaltim, Eka Marindra Lutviandi, menyampaikan bahwa gerakan ini sejak awal diarahkan bukan sekadar membuat kegiatan pertanian, tetapi membangun sebuah model yang dapat menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda untuk masuk dan berkembang di sektor pertanian.
Kita ingin memulai dari yang nyata. Kita lihat dulu potensi wilayahnya, siapa orangnya, apa komoditasnya, apa masalahnya, dan apa peluang usahanya. Dari sana baru kita bangun model yang bisa dijalankan dan diukur.
Gerakan Petani Muda Kaltim selanjutnya akan memasuki tahapan identifikasi potensi wilayah, penyusunan baseline, dan persiapan piloting dengan melibatkan seluruh unsur yang telah ditetapkan.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menjadi fondasi untuk membangun model regenerasi petani yang lebih adaptif, berbasis teknologi, memiliki orientasi usaha, dan dapat dikembangkan sesuai karakteristik wilayah Kalimantan Timur.

