Jakarta — Minuman “obat herbal” kemasan saset selama ini dikenal sebagai solusi praktis untuk mengatasi masuk angin, batuk, perut kembung, hingga tenggorokan tidak nyaman. Sensasi hangat dan aroma rempah yang kuat membuat produk ini sangat populer di kalangan masyarakat. Namun di balik citra alami tersebut, para ahli mengingatkan adanya potensi risiko kesehatan dari salah satu bahan utamanya, yakni kayu manis jenis Cassia.
Kayu manis yang umum digunakan dalam industri minuman herbal kemasan di Indonesia sebagian besar berasal dari jenis Cassia (Cinnamomum burmannii). Jenis ini dipilih karena aromanya lebih tajam dan harganya lebih ekonomis dibanding kayu manis Ceylon yang dikenal memiliki kualitas premium.
Meski berasal dari bahan alami, kayu manis Cassia diketahui mengandung kumarin dalam kadar tinggi. Kumarin merupakan senyawa alami pemberi aroma khas pada kayu manis, namun dalam konsumsi berlebihan atau jangka panjang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh.
Sejumlah lembaga kesehatan internasional telah memberikan perhatian serius terhadap senyawa ini. Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menetapkan batas toleransi konsumsi kumarin harian hanya sebesar 0,1 miligram per kilogram berat badan. Sementara lembaga pengkajian risiko kesehatan di Jerman dan Norwegia turut mengingatkan potensi gangguan hati akibat paparan kumarin, bahkan dalam dosis relatif rendah pada individu tertentu.
Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa konsumsi kayu manis Cassia secara berlebihan berpotensi menyebabkan hepatotoksisitas atau kerusakan hati. Risiko lain yang turut disorot adalah nefrotoksisitas yang dapat memengaruhi fungsi ginjal. Beberapa studi toksikologi bahkan mengaitkan paparan kumarin dosis tinggi dengan potensi sifat karsinogenik pada hewan percobaan.
Selain itu, kandungan tertentu dalam kayu manis juga dapat berinteraksi dengan obat medis, terutama obat pengencer darah. Kondisi ini dinilai berisiko meningkatkan kemungkinan perdarahan apabila dikonsumsi tanpa pengawasan pada pasien tertentu.
Para peneliti juga menemukan bahwa masyarakat Asia berpotensi lebih rentan terhadap efek kumarin karena faktor genetik. Metabolisme tubuh yang lebih lambat dalam mengurai senyawa tersebut menyebabkan zat beracun hasil pemecahan kumarin bertahan lebih lama di dalam tubuh.
Kasus klinis terkait konsumsi suplemen kayu manis dan produk berbasis kumarin telah ditemukan di berbagai negara. Gejala yang dilaporkan meliputi gangguan fungsi hati, hepatitis akut, hingga penyakit kuning. Meski sebagian besar pasien membaik setelah menghentikan konsumsi, risiko kerusakan organ tetap menjadi perhatian serius.
Masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi “obat herbal” kemasan secara berlebihan, terutama dalam jangka panjang atau beberapa saset sekaligus dalam sehari. Konsumen juga disarankan lebih cermat membaca komposisi produk dan memahami bahwa bahan alami tetap memiliki potensi efek samping bila dikonsumsi tanpa batas.
Pakar kesehatan menekankan bahwa penggunaan produk herbal sebaiknya tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi tubuh masing-masing. Edukasi mengenai kandungan bahan aktif dalam produk herbal dinilai penting agar masyarakat dapat lebih bijak menjaga kesehatan tanpa mengabaikan potensi risiko tersembunyi di balik produk yang dianggap aman dan alami. (LH)
