YOGYAKARTA – Penguatan kelembagaan menjadi fokus utama pertemuan 12 Kelompok Tani se-Kemantren Tegalrejo yang digelar di Pendopo Kemantren Tegalrejo, Kamis (12/02/2026). Kegiatan ini dirancang untuk memperkokoh struktur organisasi, menyamakan visi, serta memperjelas arah pengembangan pertanian kota di wilayah Tegalrejo.
Mantri Anom Kemantren Tegalrejo, Ryan Wulandari, S.STP., S.IP., menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan wilayah tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi antar unsur masyarakat. Kelompok tani dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung peningkatan ekonomi keluarga.
Dalam sesi materi, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Willy menekankan pentingnya soliditas sumber daya manusia dan kekompakan organisasi. Menurutnya, kelembagaan yang kuat akan menjadi fondasi bagi kelompok tani untuk berkembang, beradaptasi, dan berinovasi.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Antonius Yoyok Hartadi, SE, memaparkan secara mendalam tentang konsep kelembagaan pertanian, mulai dari pengertian, fungsi, hingga hierarki organisasi petani. Kelompok tani disebut memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai kelas belajar, wahana kerja sama, dan unit produksi.
Diskusi juga mengulas tantangan khas pertanian kota, seperti keterbatasan lahan, penguatan kapasitas SDM, strategi usaha tani dari hulu ke hilir, hingga pentingnya membangun kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk Gapoktan, Forum Gapoktan, KTNA, PPL, PPS, dan instansi terkait.
Sebagai langkah konkret, peserta merumuskan peningkatan kapasitas pengurus dan anggota, pengembangan sistem manajerial yang lebih tertata, serta rencana penyelenggaraan Gebyar Pasar Tani se-Kemantren Tegalrejo secara berkala.
Dengan semangat kebersamaan, kegiatan ini meneguhkan komitmen untuk mewujudkan kelompok tani yang unggul, inovatif, dan sejahtera di tengah dinamika pertanian perkotaan.
Sementara Narsum terakhir Farida menyampaikan terkait pengelolaan sampah di wilayah dengan biowash untuk mengatasi problematika yang ada.
